Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk mahasiswa

cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa
 cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk mahasiswa

cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk mahasiswa - sebagai mahasiswa harus mampu berpikir kritis karena anak-anak muda adalah tulang punggung peradaban. 

pernah dengar kalimat ini? jika ia, pembahasan dalam artikel ini untuk kamu. seperti biasa kopinya jangan sampe ketinggalan. 

Salah satu tujuan utama pendidikan tinggi adalah mengembangkan pemikiran kritis mahasiswa. 

Dalam kenyataannya, pemberian mata kuliah oleh kebanyakan dosen kepada para mahasiswa belum mampu mengembangkan pemikiran kritis mereka (Nummedal & Halpern, 1995). 

Laporan-laporan hasil penelitian yang dikutip oleh Halpern (1996) menggambarkan betapa miskinnya pemikiran kritis mahasiswa dan orang dewasa baik di Amerika maupun di negara-negara lain. 

Situasi seperti ini mendorong lahirnya salah satu tujuan khusus pendidikan tinggi, yakni agar proporsi lulusan perguruan tinggi yang mendemonstrasikan suatu kemampuan yang lebih tinggi. 

untuk berfikir secara kritis, berkomunikasi secara efektif, dan memecahkan problem akan meningkat secara substansial. (Numedal & Halpern, 1995).

cara mengembangkan pemikiran kritis mahasiswa melalui metode diskusi

Model Alison King

Menurut King, seorang pemikir kritis adalah seseorang yang mempunyai fikiran yang senantiasa ingin tahu (inquiry mind) atau seorang penanya yang baik (good questioner) (1995).

cara berpikir kritis mahasiswa

 


Bagi seorang pemikir kritis, maka apa yang dilihat, didengar, dibaca, atau dialaminya akan senantiasa dianalisis, dikaji penting-tidaknya. 

dicari penjelasan-penjelasannya, serta dicari kemungkinan-kemungkinan hubungan antara pengalaman tersebut dengan apa yang telah diketahuinya. 

Pemikir  yang  kritis  akan  selalu  memunculkan  pertanyaan-pertanyaan  seperti berikut ini: 

  • Apa itu artinya ? 
  • Apa hakekatnya ? 
  • Apakah ada cara pandang yang lain mengenai hal itu ? 
  • Mengapa ini terjadi ? 
  • Apa buktinya ? 
  • Bagaimana saya bisa yakin ?.

Pemikiran kritis ditandai oleh pengajuan pertanyaan-pertanyaan semacam itu dan penggunaan pertanyaan- pertanyaan tadi untuk memahami dunia di sekitar (King, 1995).

Dalam model ini mahasiswa akan di bantu untuk mengembangkan kebiasaan ingin tahu. 

sehingga mereka mampu belajar mengajukan pertanyan-pertanyaan yang merangsang fikiran menyangkut  bahan-bahan yang mereka baca, dengar dan temui dalam kuliah.

Kebiasaan berfikir kritis ini diharapkan akan dapat diterapkan juga dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Menurut King (1995) tingkatan berfikir yang terjadi pada mahasiswa sangat dipengaruhi oleh tingkatan pertanyaan yang diajukan dosen. 

Dosen dapat mengajukan satu pertanyaan tertentu kepada mahasiswa untuk menimbulkan proses berfikir tertentu yang diinginkan oleh dosen tersebut. 

Misalnya, jika pertanyaannya bersifat faktual, seperti “Apakah skema itu ?”, maka ada kecenderungan hanya fakta yang akan diingat.

namun, jika pertanyaannya benar- benar memprovokasi pemikiran, (thought-provoking). 

seperti “Jelaskan bagaimana skema dapat mempengaruhi pemecahan masalah dalam skenario ini ?”, maka berfikir kritis akan dapat terjadi. 

Untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis maka mahasiswa diminta membuat pertanyaan- pertanyaan yang mampu memprovokasi pemikiran seperti terlihat dalam tabel di atas.

baca juga : berpikir kritis, konsep dan metodologi

langkah-langkah mengembangkan pemikiran kritis mahasiwa King (1995) 

  1. Tanya-jawab dengan mahasiswa lain secara timbal-balik
  2. dosen memberikan kuliah mengenai satu topik. Setelah itu, mahasiswa diminta menulis tiga pertanyaan. (berdasarkan daftar pertanyaan-pertanyaan yang ada pada tabel) tentang bahan kuliah yang diajarkan tadi. 
  3. Kemudian mahasiswa dibagi dalam pasangan- pasangan  atau  dalam  kelompok  kecil  untuk  melakukan  tanya-jawab  secara  timbal  balik. 
  4. Masing-masing mahasiswa akan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa lain, dan pada gilirannya mahasiswa itu akan menjawab pertanyaan dari mahasiswa lain. 
  5. Pada tahap terakhir keseluruhan kelas akan menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan dan mendiskusikan lebih lanjut hal-hal yang muncul dalam sesi tanya-jawab.

cara mengembangkan pemikiran kritis melalui metode membaca efektif

  1. Meminta mahasiswa untuk melakukan tugas membaca bahan kuliah sebelum kuliah dimulai merupakan problem abadi yang dihadapi dosen. 
  2. Untuk memotivasi mahasiswa membaca bahan kuliah, maka sebelum kuliah berlangsung mahasiswa diwajibkan mengumpulkan tiga atau empat pertanyaan generik (lihat tabel). 
  3. Pertanyaan-pertanyaan yang dikumpulkan mahasiswa tersebut dapat dipakai dalam diskusi di kelas.
  4. Pertanyaan-pertanyaan mahasiswa tersebut juga dapat menggambarkan tingkat pemahaman mahasiswa, atau bahkan apakah mahasiswa sudah membaca tugas bacaan atau belum. 
  5. Soal-soal ujian akhir bisa juga diambil dari kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mahasiswa.

cara mengembangkan pemikiran kritis untuk individu

Dalam  cara  ini  sesudah  mendengarkan  kuliah  atau  membaca  bahan  kuliah  maka seorang mahasiswa diminta membuat sejumlah pertanyaan-pertanyaan seperti dalam tabel 1. 

Mahasiswa tersebut kemudian sekaligus diminta membuat jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sendiri.

cara mengembangkan pemikiran kritis melalui menulis Carole Wade (1995)

Wade berpendapat bahwa menulis merupakan salah satu cara yang lebih baik dibandingkan diskusi dalam mengembangkan pemikiran kritis (1995). 

  1. Menulis makalah mempunyai keuntungan bagi mahasiswa diantaranya: 
  2. mahasiswa dapat mengetengahkan dua atau lebih pendapat yang bertentangan.
  3. mahasiswa dapat merevisi kembali dan menyempurnakan gagasan-gagasan yang telah disampaikan dalam tulisan terdahulu.
  4. mahasiswa memiliki waktu untuk melakukan refleksi dan pertimbangan yang hati-hati untuk menyampaikan pendapatnya. 
  5. Ketiga keuntungan tersebut tidak dimiliki metode diskusi.

Berfikir  kritis  oleh  Wade  dirumuskan  sebagai “kemampuan dan kemauan untuk melakukan penilaian terhadap klaim-klaim serta membuat keputusan objektif berdasarkan alasan-alasan yang mendukung secara baik” (1995).

baca juga :  tips belajar efektif

Seorang mahasiswa yang berfikir kritis harus mampu melakukan delapan kegiatan, yakni:

langkah-langkah dan contoh mengembangkan pemikiran kritis

  1. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memiliki kemauan untuk ingin tahu 
  2. Misalnya, pada awal semester sesudah mahasiswa membaca bab pertama dan melihat sekilas daftar isi buku wajib. 
  3. maka mahasiswa diminta mengajukan tiga pertanyaan yang akan dijawab selama kuliah berlangsung dalam semester itu. 
  4. Pertanyaan-pertanyaan yang kabur dan tidak   bersifat   kritis-analitis   akan   dikembalikan   kepada  mahasiswa untuk diperbaiki. 
  5. Mahasiswa juga diminta menjelaskan mengapa tiga pertanyaan itu penting. 
  6. Pertanyaan- pertanyaan itu kemudian dibagi-bagikan ke seluruh mahasiswa.

Merumuskan problem

Berfikir kritis mengharuskan mahasiswa mampu memahami bahwa cara seseorang merumuskan pertanyaan-pertanyaan atau problem-problem. 

akan mempengaruhi bisa-tidaknya pertanyaan atau problem tadi diselidiki secara empiris maupun mempengaruhi solusi atau jawaban yang diberikan dalam menjawab pertanyaan tadi. 

Misalnya, mahasiswa diberi pertanyaan-pertanyaan seperti: 

  1. Apakah omnibus law bermanfaat untuk rakyat banyak?
  2. mungkinkah pertambangan dapat mensejahterakan suatu daerah 
  3. apakah hanya pertambangan satu-satunya cara memicu pertumbuhan ekonomi?

Beberapa mahasiswa mungkin segera menjawabnya tanpa mempertimbangkan kemungkinan dapat-tidaknya pertanyaan itu diselidiki secara empiris.

Menguji bukti. 

Mahasiswa dilatih untuk memahami bahwa tidak semua pendapat yang bersifat empiris itu mempunyai kedudukan yang setara. 

Ada sejumlah pendapat yang didukung oleh bukti-bukti dan alasan-alasan yang kuat, sementara ada sejumlah pendapat yang semata-mata spekulatif atau berdasar bukti yang lemah. 

Dalam hal ini, mahasiswa misalnya diminta menyediakan tiga bukti baik dari buku bacaan maupun kuliah yang mendukung pendapat mereka.

Menganalisis asumsi-asumsi dan bias-bias.

Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi asumsi-asumsi yang mendasari pendapat orang lain maupun diri sendiri. 

Misalnya, mahasiswa diminta membaca suatu kasus mengenai seseorang yang ingin menjadi tukang pembuat kenop. 

Namun calon tukang tadi agak ragu karena untuk membuat kenop dibutuhkan ketrampilan tangan dan ia tahu bahwa ketrampilan tangan bersifat pembawaan. 

sedangkan bapak-ibunya tidak memiliki ketrampilan tangan. 

Calon tukang pembuat kenop itu lalu memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. 

Sesudah membaca kasus tersebut mahasiswa diminta menilai asumsi-asumsi yang keliru yang dimiliki oleh calon tukang itu.

Menghindari penalaran emosional

Mahasiswa yang mempunyai pandangan yang bertentangan dengan mahasiswa lain diminta untuk tidak terlalu emosional mempertahan- kan kebenaran pendapatnya. 

Disamping itu, mahasiswa perlu memahami bahwa intensitas komitment seseorang terhadap pendapatnya sendiri belum tentu ada sangkut-pautnya dengan kebenaran atau validitas pendapat tersebut. 

Misalnya, mahasiswa diminta mengidentifikasi rayuan emosional yang terdapat dalam kampanye politik maupun iklan. 

sehingga timbul kesadaran mengenai penalaran emosional pada mahasiswa tersebut.

hindari penyederhanaan berlebihan

Menghindari penyederhanaan yang berlebihan. Penyederhanaan yang berlebihan meliputi cara berfikir “ini atau itu” serta membuat generalisasi yang berlebihan dari data atau sampel yang terbatas. 

Dalam hal ini mahasiswa diminta mempertimbangkan segi kompleksitas perilaku manusia. 

Misalnya, mahasiswa diminta untuk menjelaskan dalam situasi bagaimana seorang bocah berusia 10 tahun akan menjadi saksi yang lebih baik daripada seorang dewasa berumur 40 tahun, atau sebaliknya.

selalu mempertimbangkan kemungkinan interpretasi lain

Mempertimbangkan interpretasi lain. 

Mahasiswa diminta untuk memikirkan penjelasan lain selain penjelasan pertama yang tampak jelas untuk menerangkan gejala, kejadian atau hasil penelitian. 

Disamping itu, mahasiswa diminta memahami bahwa fakta-fakta yang diajukannya tidak lalu secara otomatis mengakhiri perdebatan mengenai isu-isu yang sedang dibicarakan. 

Misalnya, mahasiswa diberi informasi mengenai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pria yang sering melakukan hubungan seksual cenderung memiliki level  testosterone yang lebih tinggi  daripada  pria yang jarang melakukan hubungan seksual. 

Mahasiswa kemudian diminta memberikan sekurang-kurangnya dua interpretasi alternatif, dengan memperhitungkan kemungkinan hubungan yang berbeda antara sebab dan akibat.

Bersikap toleran terhadap ketidakpastian.

Mahasiswa perlu memiliki sifat toleran terhadap ketidakpastian dalam psikologi. 

Mahasiswa diminta mengidentifikasikan pertanyaan- pertanyaan yang belum terjawab di dalam buku bacaan atau dalam kuliah. 

Cara lain ialah meminta mahasiswa untuk menentukan apakah terdapat cukup bukti dalam mengambil kesimpulan mengenai klaim tertentu. 

Misalnya, apakah ada cukup bukti mengenai klaim tentang adanya gejala memori yang direpresi. 

Mahasiswa diminta untuk tidak tergesa-gesa mengambil posisi ekstrem untuk gejala-gejala yang masih tidak pasti.

Kedelapan kriteria di atas dapat menjadi pegangan mahasiswa sebagai panduan dalam membuat makalah atau dalam mengikuti kuliah pada umumnya. 

Makalah mahasiswa sebaiknya diberi komentar-komentar sehingga jika makalah tersebut kurang memuaskan maka mahasiswa dapat merevisinya.

berpikir kritis dalam perspektif psikologi

Model dari Underwood dan Wald

Berfikir kritis dalam psikologi akan mencakup:

  1. kemampuan mengevaluasi jaringan- jaringan kesimpulan
  2. asumsi sebab-akibat
  3. definisi operasional 
  4. dan rancangan penelitian.
  5. keyakinan untuk mendengarkan intuisi pribadi mengenai apa yang penting. 
  6. kepekaan untuk mengenal serta mengevaluasi tujuan orang lain yang berlatar belakang yang berbeda.

Ringkasnya antara berfikir dan berperasaan tidak dipilah-pilah (Underwood & Wald, 1995).

Untuk mencapai tujuan tersebut maka metode yang tepat ialah konferensi. 

mengembangkan pemikiran kritis melalui metode konferensi

Sebuah konferensi digambarkan oleh Underwood dan Wald   (1995). 

sebagai   “kelompok-kelompok   kecil mahasiswa bertemu dengan dosen untuk secara bebas berdiskusi, memberi tantangan, mempertahankan interpretasi terhadap bahan kuliah.

mahasiswa ditantang dalam kuliah mereka untuk belajar bagaimana berfikir dan bukan apa yang difikirkan”.

ciri khas metode konferensi

  • Dosen memberi tugas mahasiswa untuk membaca bacaan yang mampu di pahami dan menantang.
  • Sumber  bacaan  dipilih  sumber  primer,  misalnya  sebuah  artikel  penelitian  empiris dari satu jurnal terkemuka. 
  • Sumber bacaan primer akan mendorong mahasiswa memfokuskan pada proses penelitian dan tidak hanya pada produk penelitian. 

Dengan demikian maka mahasiswa akan belajar mengevaluasi metodologi penelitian disamping kesimpulan-kesimpulan penelitian. (Underwood & Wald, 1995).

  1. Pada hari-hari pertama perkuliahan, dosen perlu mengkomunikasikan kepada mahasiswa cara mahasiswa harus berlaku di dalam kelas. 
  2. mahasiswa perlu berbagi gagasan secara bebas  dengan  sesama  mahasiswa.  
  3. namun, dengan dukungan argumen yang dipikirkan masak-masak, mahasiswa perlu menghargai dan responsif terhadap gagasan-gagasan mahasiswa lain. 
  4. mahasiswa perlu berkomunikasi kepada mahasiswa lain dan bukan hanya kepada dosen.
  5. Pada umumnya di dalam kelas mahasiswa akan lebih banyak berbicara dibandingkan dengan dosen.
  6. namun, demikian dosen tetap butuh persiapan untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan mahasiswa dan merumuskan jawaban-jawaban yang produktif. 

Perilaku bertanya mahasiswa dapat dibentuk oleh dosen lewat beberapa cara: 

  1. Seorang dosen dapat mengajukan pertanyaannya sendiri sehingga akan menjadi model bagi mahasiswa. 
  2. Jika pertanyaan mahasiswa kurang jelas, maka dosen dapat menyederhanakan pertanyaan tersebut. Cara lain adalah meminta mahasiswa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan  tertulis.  
  3. Salah  satu  metode  mambuat  pertanyaan  tertulis  ialah metode yang dikembangkan oleh King (lihat Model berfikir kritis dari King di atas).
  4. Dosen  perlu  memiliki  kemampuan  mengelola  dinamika  kelas.  Dosen  harus  mampu menciptakan suasana kuliah yang beriklim penuh penerimaan, toleransi dan saling menghargai.
  5. Perilaku mahasiswa pun memiliki sumbangan yang besar atas keberhasilan metode konferensi. Misalnya, mahasiswa perlu menunjukkan partisipasi aktif dalam konferensi. 
  6. Untuk itu, dalam silabus tuntutan untuk berpartisipasi aktif ini perlu ditulis secara eksplisit. 
  7. Salah satu tanggung jawab untuk berpartisipasi tersebut adalah membaca bacaan yang telah ditugaskan dan mengevaluasi dengan hati-hati bacaan tersebut. 
  8. Agar supaya mahasiswa mau membaca maka panjangnya bacaan perlu dibatasi dan mahasiswa diminta membuat pertanyaan sendiri mengenai bacaan itu.
  9. Mahasiswa harus mau belajar dari sesama mahasiswa. 
  10. Mahasiswa harus membuang jauh- jauh pandangan yang mengatakan bahwa hanya dosenlah yang memiliki pendapat yang penting untuk didengarkan. 
  11. Dalam hal ini dosen diminta untuk mengekspresikan rasa ketertarikan dan memberikan penghargaan kepada pendapat mahasiswa sehingga mahasiswa mau mengemukakan pendapat. 
  12. Mahasiswa harus mau berani memikul resiko dengan menyatakan pendapat di depan mahasiswa lain. 
  13. Dosen dapat memberitahukan kepada mahasiswa bahwa melakukan kesalahan itu hal yang lumrah.

Metode konferensi juga menuntut dosen untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa tujuan konferensi bukan untuk menghancur-leburkan sampai berkeping- keping pendapat mahasiswa lain. 

demikianlah pembahasan mengenai cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk mahasiswa sampai jumpa di konten bara aksara selanjutnya.

sumber:

Dicky Hastjarjo,1999, mengembangkan pemikiran kritis mahasiswa,Buletin Psikologi, No VII

bara aksara
bara aksara saya hanyalah seorang kadang-kadang. kadang menulis. kadang membaca. kadang-kadang resah. baraaksara.my.id

Post a Comment for " cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk mahasiswa"