Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

resensi buku, nelson mandela melawan rasisme dan sistem apartheid

resensi buku, nelson mandela melawan rasisme dan sistem apartheid
www.baraaksara.my.id


Judul Buku : Long Walk, Nelson Mandela

Penulis : Paharizal, S.Sos. Ma

Penyunting : Arief Rahmat

ISBN: 979-168-346-8-978-979-168-346-3

Penerbit : Narasi

Tebal : 120 Halaman


resensi buku, nelson mandela melawan rasisme dan sistem apartheid
www.baraaksara.my.id


baraaksara.my.id-buku ini adalah suatu mozaik dari perjalanan seorang pejuang afrika selatan, pada bagian awal pembaca akan diperkenalkan dengan nelson mandela, bagaimana ia berkenalan dengan wacana penindasan berbasis ras dan bangkitnya kesadaran kritis dan semangat perlawanan nelson mandela

bagian selanjutnya difokuskan pada aksi oleh nelson mandela melawan rezim politik apartheid. dengan suatu kesadaran bahwa organisasi adalah senjata untuk melawan. pada bagian akhir digambarkan suasana kemenangan nelson mandela atas rezim politik apartheid. 


euforia saat ia terpilih menjadi presiden serta kebijakan dalam dan luar negeri, hingga perjalanannya mengkampanyekan perdamaian dunia. sebuah buku yang renyah untuk dikunyah dan ditelan.


masa kecil nelson mandela

nelson mandela lahir pada 18 juli 1918 di desa mvezo di umtatu, provinsi cape, afrika selatan. dari seorang ayah bernama gadla henry mphakansyiwa. seorang kepala suku dan anggota dewan kerajaan. memberinya nama rolihlahla mandela. yang dalam bahasa xhosa artinya menarik cabang pohon atau pembuat onar. 


ayah mandela adalah seorang poligamis dengan empat istri dan sembilan putri tersebar di beberapa desa. menurut suku thembu, poligami menggambarkan status sosial yang tinggi, dan kemampuan kepemimpinan dalam suku. ibu nelson mandela adalah istri ke tiga ayahnya. namanya nosekeny fanny berasal dari klan amampemvu.


meskipun dari kalangan bangsawan kedua orang tuanya tak bisa baca tulis karena belum tersedia sarana pendidikan formal bagi orang-orang kulit hitam. 


masyarakat suku thembu saat itu belum menyadari pentingnya mengakses pendidikan formal. ketidaksadaran ini menjadi petaka dikemudian hari. kenaifan warisan kearifan yang terlanjur dipelihara menjadi sebab mereka dieksploitasi, dipinggirkan dan didiskriminasi. oleh bangsa kulit putih yang sudah mengakses sekolah.


pada usia 7 tahun nelson mandela di kirim ke sekolah methodist oleh ibunya.  di sekolah itu ia di baptis dan diberi nama nelson. ia anak yang sangat senang belajar terutama belajar kepada ayahnya namun, saat berusia sembilan tahun proses pembelajarannya dihentikan paksa oleh waktu. ayahnya menghela nafas terakhir saat ia baru berumur sembilan tahun. 


tak lama setelah berpisah dari ayahnya beranjak remaja nelson juga harus berpisah dari ibunya. bukan karena meninggal tapi karena adat. dalam adat suku thembu, anak remaja harus tinggal bersama klan ayahnya. oleh ibunya nelson dibawa ke great place, mqhekezweni. 


ia dititipkan pada jongintaba dalindyebo, bupati dan kepala suku thembu yang menggantikan ayah nelson. beruntung, dipangkuan dalindyebo nelson diperlakukan sama seperti anak sendiri. 


karena berasal dari klan bangsawan nelson mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di sekolah terbaik fort hare, lembaga pendidikan paling bergengsi orang kulit hitam di afrika selatan.  


selain itu nelson diberi kesempatan oleh dalindyebo untuk mengikuti pertemuan bupati dan masyarakat, baik yang formal maupun semi formal. 


nelson menyaksikan kepiawaian dalindyebo memediasi dan mendengarkan aspirasi masyarakat, ia selalu tampak hati-hati dalam mengambil keputusan. nelson banyak belajar mengenai kepemimpinan, dan empati terhadap persoalan masyarakat. 


pada saat remaja nelson dikenal giat belajar dan taat agama. juga senang mempelajari sejarah. terutama, sejarah afrika, nelson rajin berburu informasi mengenai sejarah bangsa dan rasnya. namun dari semua informasi sejarah yang dia dapatkan nelson muda malah menganggap kolonialis eropa adalah dewa penolong yang memperkenalkan kehidupan modern ala eropa. 


nelson dikolongi hasil belajarnya sendiri. mungkin sejarah sebenarnya mengenai kedatangan bangsa eropa kulit putih sengaja disembunyikan oleh guru, atau setiap orang yang ia temui untuk mempelajari sejarah bangsanya. 


saat ini semua orang mungkin tahu bahwa, sejarah kolonialisme  adalah sejarah perampasan, pembodohan,  dan pemenuhan hasrat tanpa batas. 



masa muda, masa yang berapi-api

beranjak pada usia 16 tahun nelson berangkat ke tyhalarha untuk menjalani ritual sunat di tepi sungai, dekat tempat dia dilahirkan, ini di kenal dengan tradisi sekolah permulaan. dia harus hidup jauh dari pemukiman dan tinggal di semak-semak. untuk menerima bimbingan dan saran menjadi pria.


dalam tradisi sekolah permulaan selain harus tinggal di semak-semak juga harus disunnat agar mendapat pengakuan dari masyarakat, sah menjadi dewasa, memiliki hak dan kewajiban terhadap masyarakat. dan dapat terlibat dalam hal-hal penting menyangkut masyarakat. 


setelah sah menjadi dewasa nelson mandela banyak terlibat dengan pesoalan masyarakat suku thembu, dan mulai sadar banyak persoalan ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya. 


namun ia masih belia dan belum memiliki kesadaran kritis mengenai apa yang sebenarnya terjadi. 


setelah selesai mejalankan tradisi ia harus meninggalkan desa, tempat ritual berlangsung. dengan kepala yang sesak dengan pertanyaan. sebelum meninggalkan tempat ritual biasanya kepala desa akan berpidato mengenai “pengukuhan kedewasaan.” 



dengan wajah serius kepala suku berpidato. 


di sana duduk putra-putra kita, muda, sehat, dan tampan. kembang suku xhosa. kebanggan bangsa kita. kita baru menyunat mereka dalam acara yang menjanjikan kehidupan laki-laki tapi janji itu kosong dan memperdaya. 


karena kita orang-orang xhosa, dan semua orang kulit hitam di afrika selatan adalah kaum yang ditaklukkan. kita budak di negeri sendiri. kita penyewa di tanah kita sendiri. kita tidak mempunyai kekuataan, kekuasaan, dan kendali atas nasib kita sendiri. ditanah kelahiran kita sendiri. 


anak-anak muda itu akan pergi ke kota-kota besar. mereka akan hidup dalam gubuk dan menenggak alkohol murahan. karena kita tidak mempunyai tanah, tempat mereka bisa makmur beranak-pinak. 


mereka akan batuk, memuntahkan isi paru-paru mereka kedalam tambang-tambang orang kulit putih, hingga orang kulit putih sejahtera tiada tara.


semburan pidato penuh amarah dan kecemasan, terasa bagai sengatan lebah yang menyengat hati dan kesadaran pria yang baru saja disunat. ia bimbang dan mulai meragukan informasi yang diperolehnya mengenai kebaikan kolonialis. nelson kini tak lagi dikolongi oleh hasil belajarnya. kekagumannya kepada eropa perlahan luruh seiring pidato kepala desa.



kesadaran perlawanan dan aksi masa.

nelson mandela mulai bernostalgia dengan ingatannya pada saat usianya 12 tahun, tepatnya saat pergantian kepemimpinan di afrika selatan. dari gerhardus strijdom (1954-1958) ke hendrik frensch verwoerd (1954-1966). pemimpin ke enam dibawah koloni inggris.
  

keadaan diskriminasi saat itu  semakin parah sebab verwoerd mendukung kebijakan pemimpin sebelumnya. yang memperlakukan orang-orang kulit hitam sebagai kelompok kelas kedua. ia terpengaruh oleh konstruksi lingkungannya yang menganggap bahwa orang kulit hitam adalah tempramen, rendahan, kampungan, dan kriminal.
 
sementara orang kulit putih mempunyai peradaban yang lebih maju.verwoerd beranggapan bahwa orang kulit putih lebih pantas memimpin dunia, orang kulit hitam hanya sebagai pekerja, atau pemimpin klan-klan mereka. 


saat masa pemerintahannya ia menempatkan warga kulit hitam di suatu wilayah khusus yang disebut homeland. guna mengontrol perilaku orang kulit hitam, ia memperkuatnya dengan mengeluarkan aturan native land act, yaitu suatu wilayah khusus yang ditempati warga kulit hitam. jika mereka keluar harus membawa pasport. 


dalam goup area act ini terjadi pemisahan kawasan tempat tinggal, pendidikan dan lapangan kerja. keadaan ini diperparah dengan dikeluarkannya immortality act, yang mana pernikahan campuran antara ras kulit hitam dan kulit putih dilarang. pernikahan verwoerd melakukan apa saja agar meminggirkan warga kulit hitam afrika.


mengingat dan mengalami sendiri penindasan berbasis ras. nelson akhirnya sadar akan keadaan masyarakat kulit hitam afrika yang tertindas. dan bersama teman-temannya mulai mengumandangkan perlawanan terhadap praktik penindasan berbasis ras. 


pada usia 18 tahun nelson kuliah di fort hare ia dan teman-temannya mendirikan house commite yang merupakan wadah perjuangan mahasiswa angkatan pertama untuk melawan dominasi dan diskriminasi. ini juga merupakan upaya mempersatukan mahasiswa melawan penindasan.


pada tahun pertamanya mandela mengorganisir gerakkan pemboikotan terhadap kebijakan kampus melalui dewan perwakilan mahasiswa, sebagai konsekuensi perjuangannya nelson di skorsing kemudian dikeluarkan pada tahun 1940 tanpa gelar. 


setelah keluar ia melanjutkan perjuangan di arena yang lebih luas, bergabung dengan african national congrees sebuah wadah gerakkan politik nasional multi ras yang mengusung agenda kebebasan dan keadilan bagi kulit hitam afrika.


mulai tahun 1942 nelson aktif membangun dan memajukan kesadaran perlawanan warga kulit hitam melalui alat politik persatuan yang diyakininya dapat menjadi senjata melawan penindasan.  aktifitas politiknya mulai meningkat, pada tahun 1944 ia dan rekan seperjuangannya walter sissulu, oliver tambo, dan anton lembede mendirikan liga pemuda anc yang mendeklarasikan dirinya sebagai wadah politik yang mengupayakan demokrasi secara penuh di afrika selatan. 


dengan tuntutan demokratisasi seperti, penghapusan diskriminasi hukum, hak kewargaan penuh, dan memiliki perwakilan langsung di parlemen. 


nelson dan camerad perjuangannya memiliki peran penting dalam menyalakan obor semangat, keberanian, dan militansi kepada segenap anggota anc. hingga partai yang awalnya moderat menjadi lebih militan. ia dan camerad seperjuanngannya menyerukan kepada semua anggota untuk melakukan perlawanan langsung melawan sistem apartheid.


apartheid adalah sebuah sistem pemisahan ras yang dilegalkan pemerintah. nelson dan barisan perlawanannya melawan dengan metode pemogokan dan boikot. perlawanan mereka justru selalu dihambat oleh presiden anc sendiri  yang kemudian digugat kepemimpinannya lewat mosi tidak percaya anggotanya ia kemudian digantikan james moroka. 


peralihan kepemimpinan dan struktur baru membuat anc lebih militan dalam upaya membangun dan memajukan kesadaran perlawanan rakyat. 



puncaknya pada maret 1950  di johannesburg, anc memimpin  kampanye penghapusan tiket untuk perempuan, penolakan pemindahan paksa, dan pencabutan uu otoritas bantu yang memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk mencopot pemimpin masyarakat pribumi dan menggantinya dengan orang yang bisa bekerjasama dengan sistem rasis.



gelombang protes tiada henti ini membuat pemerintahan rasis mengeluarkan uu anti komunis untuk membunuh gerakan rakyat afrika selatan. 



namun tak pernah berhasil. api perlawanan telah menyebar kemana-mana. 



saat eskalasi gerakan mulai meningkat nelson mandela diangkat sebagai pimpinan pergerakan liga pemuda ancyl. ia melakukan banyak perubahan dalam pergerakan mulai dari tidak mau bekerjasama dengan kulit putih, menjadi mau. ia sangat dipengaruhi pemikiran marx, engels, lenin, dan mao tse tung. 



hasilnya pada tahun 1952 anc memulai program kampanye menentang sistem apartheid, dimulai dari pengumpulan tanda tangan rakyat sebagai wujud kesediaan menjadi relawan. 



aksi ini dikenal dengan deviance campaigne. yang sifatnya pasif. non kekerasan. kampanye ini menghasilkan gerakan masa untuk pembebasan sistem apartheid meningkat. anggota anc yang berjumlah 7000 meningkat menjadi 100 ribu selama kampanye.

 

anc kini benar-benar menjadi organisasi berbasis rakyat dan dicintai masyarakat.



kampanye ini menghasilkan pembentukan kongres rakyat, kongres kulit putih demokratis, dan kongres serikat buruh. yang kemudian bersatu menjadi kongres aliansi yang dipimpin mandela. melihat dukungan luas masyarakat terhadap deviagne campaign. pemerintah mulai melakukan penangkapan massal termasuk mandela yang ditahan selama 2 tahun dan kerja paksa.





meski dipenjara nelson terus menerus melawan meski harus berulang kali dipenjara dan diteror. tidak menyurutkan semangatnya untuk berlawan. justru di dalam penjara suaranya semakin membesar hingga terjadi demonstrasi besar-besaran dari pendukungnya baik didalam maupun luar negeri.



gelombang aksi terus dilancarkan terutama saat pergantian kekuasaan dari botha ke frederick de klerk. karena demonstrasi semakin kuat dan hebat memunculkan tekanan pada penguasa baru nelson akhirnya dibebaskan pada tanggal 11 februari 1990 pada usia 74 tahun. 



saat keluar nelson menyempatkan diri berpidato di depan lebih dari 50 ribu orang. isi pidatonya dikenal dengan pidato komitmen. yaitu seruan untuk membangun persahabatan dan persaudaraan permanen antara kulit hitam dan putih.



demikianlah resensi buku kali ini. kalo kalian suka dengan bukunya. cari bukunya, baca, semoga bermanfaat.

baca juga resensi buku lainnya :



















bara aksara
bara aksara saya hanyalah seorang kadang-kadang. kadang menulis. kadang membaca. kadang-kadang resah. baraaksara.my.id

Post a Comment for "resensi buku, nelson mandela melawan rasisme dan sistem apartheid"